Musnel, mimpi malam

21 Nov 2008

Senja terasa agak gelap dari hari biasanya, udarapun terasa dingin tapi angin petang tidak berhembus sekencang petang kemarin, sudah sepuluh menit aku berdiri di depan balai kota solok menunggu angkot untuk membawaku ke pasar, tampak Musnel seorang pemuda yang bekerja sebagai CS (Cleaning Service) di balaikota, diapun menyapa, percakapan pendek dimulai… kenapa tidak pake ojek bang serunya kepada ku, sayang uang nya Nel (panggilan pendek Musnel) jawabku, karena ojek di sini ngak ada tarif apalagi kalo sudah malam semaunya saja menggunakan ongkos sewa bawa penumpang.

Entah apa awal pembicaraan kami sampai-sampai si Musnel bercerita tentang kisah hidupnya, kisahnya dimulai dari sewaktu masih duduk disekolah dasar kedua orang tuanya bercerai sehingga untuk melanjutkan sekolah sudah tidak ada biaya lagi, ibunya yang hanya sebagai buruh harian tak mampu menyiapkan biaya sekolah untuk putranya, Musnel pun harus menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan agar tetap bisa bersekolah, setelah melanjutkan ke SLTP Musnel pun harus keluar dari panti asuhan, hidup sendiri dan harus bersekolah dan menapkahi dirisendiri tidaklah mudah untuk bocah seusia dia, masjid merupakan salah satu tempat yang bisa Musnel andalkan untuk berteduh dari kejamnya hari, pertarungan mempertahankan hidup bocah ini membuat hati seorang bapak terenyuh dan mengangkat Musnel menjadi anak angkatnya dan membiayai sekolahnya hingga selesai di bangku SLTP, baru memasuki semester pertama di SMU orang yang paling berjasa didalam hidupnya dipanggil oleh yang maha kuasa, hari pun semakin sulit membuat Musnel kembali lagi ke mesjid untuk mempertahankan sekolah yang dipatrikan dalam jiwanya, bahwa dia harus bisa menyelesaikan pendidikan dasar, dengan mendapatkan uang imbalan membersihkan mesjid Musnel dibayar 200 ribu setiap bulannya, entah apa yang bisa dilakukan jika saya mengalami nasib seperti yang Musnel hadapi, walaupun keadaan sangat sulit, makan pun sehari hanya sekali itupun se-ada nya si Musnel tetap menjadi siswa yang berprestasi disekolah, terbukti dirainya Runner Up Olympiade Fisika tingkat Propinsi Sumatera Barat pada tahun 2007. Juni 2008 pendidikan SMU berhasil ditamatkan, niatan untuk melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi muncul dengan semangat yang membara…, tapi semangat tidaklah cukup cita-cita itu kandas didalam angan…, tawaran PMDK pun menghampirinya tapi bantuan hanya 50% dari biaya pendaftaran diperguruan tinggi, tidak ada dari pihak pemerhati pendidikan anak kurang mampu yang berprestasi yang menjadikan ini suatu masalah, terlihat seperti sesuatu yang biasa-biasa saja. Niat kandas, hidup pun harus dilanjutkan, meski tamatan SMU dan pintar mata pelajaran Fisika si Musnel tidak enggan untuk bekerja sebagai Cleaning Service, 5 bulan setelah lulus dari SMU si Musnel pun baru awal minggu kemarin bisa melihat Ijazah nya… karena tunggakan SPP yang masih ada disekolah, dengan cicilan dari sisihan gaji yang dia terima sebagai cleaning service akhirnya Musnel bisa menebus Ijazah nya.

Renungan ke-1
———————
Wahai para pemerhati pendidikan di Negara ini, betapa sulitnya untuk menikmati pendidikan yang seharunya setiap individu dapatkan karena merupakan hak azazi yang sudah dia dapatkan sejak lahir…, siswa yang mendapat prestasi sebagai Runner Up Olympiade Fisika untuk SMU tingkat Propinsi bukanlah siswa yang hanya melihat sekolah sebagai pelarian, menghamburkan uang orang tua, sekolah dengan fasilitas dan kemudahan disuguhkan tapi lihat pelajar-pelajar indonesai kebanyakan, miris mendengar ceritanya kepadaku, seandainya saya adalah SBY yang mendengar cerita mu Musnel…. sudah kupecat Menteri Pendidikan, dan kupenjarakan Kepala Sekolah yang menahan Ijazah mu karena kamu tidak sanggup melunasi biaya SPP, tapi apalah daya saya bukan SBY Musnel…..

Renungan Ke-2
———————–
Jangan dan jangan pernah percaya dengan celeng Caleg yang mengiming-imingi sekolah gratis…. tai kucing itu semua… mereka sarat dengan kepentingan, karena banyak bahkan jutaan Musnel-Musnel lain di penjuru negeri ini, dan ini membuktikan janji penghianat bangsa yang memegang tampuk pimpinan /kuasa di negeri ini sewaktu kampanye semua adalah bualan mulut busuk.

Renungan Ke-3
———————-
Jangan sia-siakan kesempatan kemudahan dalam meraih pendidikan karena banyak yang susah dalam hidupnya untuk merasakan pendidikan, tengoklah anak sekolah Jaman sekarang sekolah adalah ajang hura-hura mempertontonkan kekayaan orang tuanya….

pesanku kepada Musnel sebelum meninggalkannya, bermimpilah dimalam hari dan raihlah disiang hari, apa yang tidak bisa kita dapatkan kalo kita mau berusaha, 9 tahun yang lalu saya juga pernah merasakan hidup seperti mu Musnel.. tapi saya punya motto dalam hidup “Berjuangan untuk hari esok, bertahan untuk hari ini”.
bermimpilah malam ini, Musnel..


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post