Politik di Indonesia Tidak Lagi Cerdas Tetapi Cadas

19 Feb 2009

Hanya menghitung hari untuk diumumkannya kampanye terbuka bagi para elite porpol untuk mencari simpati dan menjual visi & misi mereka kepada simpatisan dan warga negara Indonesia.

Pemilihan Umum (singkat : pemilu) dimulai dari tahun 1955 bergulir sampai ke tahun 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, dan
2004 (sumber : http://www.pemiluindonesia.com/category/sejarah ), semua dilalui dengan acara berkampanye menyuarakan ajakan untuk memilih partai / calon presiden sampai ke calon legislatif (DPR, DPRD), seiring berubah zaman kemajuan teknologi tak bisa dipungkiri akan menjadi alat yang digunakan untuk mempermudah menyuarakan berita dan seruan-seruan.

Ritual berkampanye dari dimulai nya demokrasi di negeri ini masih berbau untuk pengumpulan masa dengan disodori sebuah panggung hiburan dimana juru kampanye (singkat: jurkam) bercuap-cuap dengan diselingi lenggok dan berisiknya suara musik, dan biduan / artis yang juga disewa untuk memancing minat simpatisan untuk bergerombol di sebuah tempat kampanye.

Masihkah pola lama yang akan terus digunakan untuk pemilu di era modern ini, bukan suatu yang aneh sebentar lagi, para pengguna jalan akan terganggu dengan iring-iringan kendaraan bermotor yang seenaknya memenuhi jalan dan dengan disengaja suara kenalpot di blayer-blayer (red. : dibesar-besarkan), tak sedikit tingkah anarkis dari mereka kepada yang bukan sesama simpatisan.

Dengan bangga seorang caleg melihat simpatisan nya bergerombol menghabiskan waktu yang berguna dengan kegiatan yang tak berguna, miris.. melihat ini, tapi inilah wajah Indonesiaku, kotornya tatanan kota akibat spanduk/ poster dan baliho yang sudah dipasang oleh para caleg dan partai sama kotornya dengan para elite politik di negeri ini, bukankah mereka adalah orang-orang yang cerdas… berpendidikan dan berwawasan tidak kurang luas…, tapi mengapa sampai saat ini pemilu di era globalisasi dengan teknologi dan pengetahuan yang serba canggih, masih menggunakan metode kolot yang dampak buruk nya jelas sudah terlihat, pikirkan kawan..

Adakah para elite politik/ caleg/ partai yang mengumpulkan masanya disuatu tempat dengan memberi para pendukung/ simpatisan sebuah wejangan tentang pengetahuan/ pendidikan berpolitik yang sehat dinegeri ini, belum ada partai/ caleg yang mengundang untuk acara seminar tentang teknologi atau budaya dan seni, atau pendidikan berpolitik, yang mana nilai manpaat nya jelas ada.. dan siapa sangka kekaguman dari seorang pendukung akan bertambah pula adanya, dari pada buang uang, menghambur-hamburkan bensin untuk konvoi dijalan, pasang sepanduk ngak karuan juntrung nya, mending kita mulai berbenah diri dalam kebaikan bersikap.

Indonesia tidak lagi memiliki warga negara yang bodoh, tapi tradisi mudah terbujuk itu tidaklah disangsikan dinegeri ini, banyak nya pilihan atas elite politik dan parpol menunjukkan suatu perpecahan mulai terjadi dinegeri ini, semua telah memperjuangkan kepentingan sendiri-sendiri, jelas rakyat sudah melihat itu semua, terbukti hasil survey menunjukkan Golongan Putih (red. : Golput) mencapai 48%, sisa 52 % lagi suara yang akan diperebutkan oleh 38 partai.

Kasus pilkada di sebuah daerah yang tak kunjung usai dan isu pemekaran daerah yang berbuntut maut, merupakan mental perpolitikan dan sikap kebernegaraan di negeri ini, hilang sudah semangat sumpah pemuda yang haru biru para jong soematra, jong sunda, jong java, jong ambon dan seterusnya…., semua sudah tidak ada lagi batasan bukankah katanya akidah adalah alat pemersatu yang paling ampuh… nyata nya mereka yang sama keyakinan nya juga saling umpat saling cemooh dan berakhir dengan saling singkirkan.

Tulisan ini hanyalah sebuah gugahan untuk menyudahi perpecahan dinegeri ini, bersatulah elite politik, bersatu lah wahai pemuda, jangan menganggap suku jawa lebih bermartabat, jangan menganggap suku sumatra lebih jujur, jangan menggap suku indonesia timur terbelakang, mari bersatu. pilihlah pemimpin yang bisa mempersatukan dan mau menjadi satu dengan kita, dan jangan menganggap saudara kita yang menjadikan tidak memilih sebagai pilihan adalah pecundang negeri ini.

JalanSempit dalam angan, menunggu pemikiran dari kawan sekalian….(tinggalkan komentar anda di sini)


TAGS politik indonesia cerdas politik cadas politik indonesia cadas parpol pemilu pemilu 2009 kampanye


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post