Pemberdayaan Masyarakat

3 Mar 2011

Hi Blogger, salam jumpa lagi sudah lama sekali laman blog saya ini tinggalkan, hampir tidak ada lagi kegiatan blog-walking yang saya lakukan, kesibukan yang menempatkan saya pada tempat dan waktu yang tidak banyak mendukung untuk kegiatan dan hobi menulis di laman blog ini. {sekedar mukadimah mengawali kembali menulis blog heheh..};

Kali ini Tag-line laman Dindak yaitu Pemberdayaan, terperinci lagi di dalam masyarakat, sebelum mengurai permasalahan yang ditemukan dalam kegiatan tersebut, mari kita satu pemahaman tentang pemberdayaan terlebih dahulu.

Pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila warganya ikut berpartisipasi. {sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pemberdayaan_masyarakat }.

Apa point penilaian keberhasilan dalam kegiatan ini ?….

Suatu usaha hanya berhasil dinilai sebagai “pemberdayaan masyarakat” apabila kelompok komunitas atau masyarakat tersebut menjadi agen pembangunan atau dikenal juga sebagai subyek. Disini subyek merupakan motor penggerak, dan bukan penerima manfaat (bahasa Inggris: beneficiaries) atau obyek saja. {sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pemberdayaan_masyarakat }

JalanSempit harap main-set kita sama tentang pemberdayaan {untuk lingkup artike saya ini}, karena banyak program pemerintah, maupun program bantuan asing yang berkerja sama dengan pemerintah dalam hal peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan, guna menekan angka pengangguran, angka kemiskinan, kesetaraan genre, maupun keberagaman.

Mari kita fokus pada pembangunan infrastruktur di perdesaan yang saat ini sedang berjalan di tengah masyarakat, terutama pada daerah yang masih jauh dari pemerataan pembangunan, sebagai warga indonesia kami sangat berterimakasih pada pemerintah yang telah berfikir dan mau melakukan perubahan di masyarakat level bawah terutama di perdesaan, programyang dibawa sangatlah bagus dan mengena, prosedur pelaksanaan sudah tersedia, dan hasil karya pemikir yang handal dan terdidik.

Apa kesalahan yang terjadi sehingga sekian lama ada nya program pemberdayaan di tengah-tengah masyarakat sampai saat ini kita tidak melihat dampak langsung akan perubahan itu ?

Jawabnya adalah sistem, sistem apa, mengapa, dan bagaimana ?

Sistem pengelolaan yang tidak terpelihara, Sistem kontrol yang diabaikan, dan Sistem Evaluasi yang terlambat dilaksanakan. Dengan demikian pantaslah kami berfikir kalo memang ini adalah suatu bentuk kegiatan/ rutinitas agar terserapnya dana, dengan adanya penyerapan dana maka permainan bisa dilakukan.

permainan apa gan ?

permainan praktik pemotongan dana bantuan, atau dana penyelenggaraan kegiatan dan manipulasi-manipulasi budged program, itu yang terjadi. Mulai dari level Propinsi yang menurunkan kegiatan ini di level Kabupaten, Kabupaten ke-level Kecamatan atau ke-Desa, akan terjadi berbagai negosiasi, sampai-sampai orang yang berdekatansekali dengan kegiatan ini yaitu “Pendamping” akan melakukan pengambilan kesempatan, mengapa….?

Mari kita fokus lagi, kita masuk ke lini “Pendamping”.

Mereka yang mendampingi masyarakat didalam pelaksanaan program kegiatan disebut “Fasilitator/ Konsultan/ Pendamping /”sebutan lain”, merasa inilah kesempatan mereka untuk mendapatkan “sesuatu” yang lebih, dengan cara me’Lebai’ kan prosedur yang harus dilalui, sehingga masyarakat yang pada umumnya tidak mengerti dengan aturan dan proses-proses tahapan program, merasa tidak sanggup bila mereka harus mengerjakan sendiri, padahala itulah tujuan dari pendampingan, agar dapat mendampingi masyarakat dalam menjalankan program.

Jasa pendampingan yang seharus nya menjadi kewajiban, menjadi aji mumpung untuk menyunat dana bantuan, tak hayal lagi bagi pihak yang melaksanakan juga akan ikut menyimpangkan dana tersebut, dan akhirnya penggerogotan massal yang terjadi, dampaknya… apakah Tujuan Bantuan akan sesuai dengan keinginan atau sasaran program.?

Peran aktif masyarakat lah saat ini yang perlu di tingkatkan, sebagai kontrol sosial terhadap tindakan-tidakan merugikan masyarakat ini, tapi tak bisa dipaksakan, apa dampaknya dengan masyarakat ??, secara langsung ya.. memang tidak akan terlihat, karena masyarakat lebih mementingkan rutinitas mereka diisi dengan kegiatan pemenuhan kebutuhan hidup, hampir dikata mereka sudah tidak ambil pusing, karena kalo mereka ikut campur makan akan repot ya mereka sendiri akhirnya.

Inilah yang terjadi, disadari atau tidak oleh kita semua, kegiatan ini tidaklah akan pernah sirna, karena ini bukanlah sesuatu yang baru terjadi, kebiasaan buruk lama yang tertanam di masyarakat, dan ketimpangan dalam bermasyarakat, bernegara, dan kepedulian pemerintah terhadap masyarakat yang masih dipertanyakan..

sebagai renungan, menjadi baik tidaklah berarti kan membuat kita ‘baik’, kadang menjadi baik menjadi tidaklah ‘baik’ bagi golongan/ rekan/ lingkungan kita*. tapi menjadi baik itu adalah pilihan yang tidak pernah salah.


TAGS Mandiri Pemberdayaan Program


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post